Rabu, 14 Mei 2014

Kartini "Pahlawan tanpa DAR...DER...DOR..."


PAHLAWAN TANPA DAR...DER...DOR…

“T  

 ing..ting..tinggg”. Belum sempat fajar menyapa bumi, nada pesan singkat handphone berbunyi beberapa kali.  “Selamat Hari Kartini, Selamat Hari Kartini, dan Selamat Hari Kartini”, kalimat itu hampir memenuhi seluruh pesan singkat yang masuk. Bukan berhenti di situ saja, kalimat itu pun telah ramai menghiasi Facebook, Twitter, dan akun sosial lainnya. Ya, itulah 21 April

Di saat mentari telah menyapa, mata tertuju pada perempuan-perempuan yang hendak lalu-lalang. Ada yang unik, tidak seperti biasanya. Perempuan-perempuan itu mengenakan konde, berpakaian kebaya lengkap dengan gayanya yang anggun. ”Mau kemana mereka ? Mau ke kondangan ?”  Hahaha , mungkin saja. Tapi seperti biasa mereka mau menuju ke tempat peringatan hari Kartini. Ya, itulah 21 April.
“Ada apa sih dengan  tanggal 21 April ?”. Anak-anak Sekolah Dasar pun sudah tahu ada apa dengan tanggal itu. Tanggal  21 April merupakan hari emansipasi wanita dan telah ditetapkan pemerintah sebagai hari besar untuk memperingati perjuangan Ibu Kartini. Pemerintah pun telah mengabadikannya dalam sebuah lagu nasional, semua hanya untuk mengenang betapa jasanya teramat besar untuk wanita Indonesia.
21 April, hari di mana sekitar 134 tahun yang lalu di Kota Jepara, Jawa Tengah, lahir seorang wanita yang dapat mengangkat derajat kaumnya. Ia dilahirkan sebagai anak keturunan bangsawan dari keturunan keluarga yang cerdas pula. Meskipun Ia dilahirkan sebagai wanita berdarah ningrat, tapi kepedulian  sosialnya sangatlah besar terhadap orang-orang yang lebih rendah statusnya, terutama terhadap wanita saat itu. Wanita pada saat itu berada pada status sosial yang rendah, bahkan beliau sendiri hanya diperbolehkan sekolah sampai di ELS (Europese Lagere School) yang setingkat dengan Sekolah Dasar.
“Cukup Siti Nurbaya”, tapi justru nasibnya persis sama dengan Siti Nurbaya. Di usianya yang ke 12 tahun Ia harus tunduk dibawah tradisi yang berlaku saat itu, Ia telah dijodohkan, dan harus dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Meskipun sangat membenci poligami  tapi ia harus menjadi pendamping Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat yang sudah 3 kali beristri. Namun, ia memiliki jiwa yang besar menerima kenyataan.
Selama dipingit Ia tidak membuang-buang waktu untuk terus belajar. Membaca, membaca, dan membaca Ia lakukannya setiap hari. Meskipun Ia dirumah, Ia tidak menutup dirinya. Ia menyempatkan dirinya untuk berkirim surat dengan relasi-relasinya yang ada di Belanda. Beliau adalah orang yang menguasai bahasa Belanda, jadi tidak sulit baginya untuk berkomunikasi dengan relasinya yang ada di negara lain. Melalui kegiatan-kegiatan itu, Kartini tumbuh menjadi wanita yang memiliki pemikiran yang maju. Kepedulian sosialnya semakin peka terutama pada kaum wanita. Muncullah keinginannya untuk memajukan kaum wanita pribumi.
Seperti yang kita tahu, sosok Kartini yang sesungguhnya tidak langsung  turun ke medan perang melawan para penjajah. Tapi dengan cita-cita dan keinginannya yang kuat, Ia mengajar wanita-wanita pribumi tanpa DAARR..DEERR..DOORR tanpa sebuah senjata pun ia berjuang untuk membebaskan wanita dari keterbelengguan serta ketidaktahuan akan pendidikan.
Kodrat wanita yang lemah tidak Ia jadikan sebagai penghalang, justru Ia jadikan sebagai batu sandungan untuk terus maju memerdekakan bangsa ini dari kebodohan dan penindasan hak kaum wanita. Ia mengajarkan wanita-wanita Indonesia untuk menjadi pribadi yang mandiri. Perjuangannya telah terbukti, saat ini banyak wanita yang sukses dan menjadi pemimpin. Persamaan hak pun telah diakui, untuk meraih kesuksesan  wanita mempunya hak yang sama dengan pria. Ini semua merupakan bukti nyata perjuangan Ibu Kartini bahwa otak dapat mengalahkan otot.

Jalanilah segala masalah, penderitaan, kepedihan dengan tabah
kekecewaanmu, kemarahanmu, kesulitan hidupmu
itu artinya engkau hidup
amati masalahmu lebih dekat lagi
bernafaslah lebih dalam lagi dengan bersyukur padaNya
berhentilah menangisi masa lalu karena ada sukacita dan keindahan hari ini.
bangkit dan terus belajar
.

Tulisan ini menggambarkan motivasi Kartini untuk Wanita-wanita Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan dan terus belajar karena ada kesenangan di masa depan.” Habis Gelap Terbit Terang”.
Jasanya sudah teramat besar bagi wanita Indonesia dahulu, kini, dan masa yang akan datang. Kartini sudah memberikan kebebasan kepada wanita untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin, tidak lain untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang cerdas serta tidak melupakan jati diri wanita Indonesia yang anggun, ramah, sopan, dan santun.
Perjuangannya harus kita teruskan, agar muncul Kartini-Kartini baru yang mempunyai cita-cita mulia untuk meraih kesuksesan bukan hanya untuk diri sendiri tapi untuk bangsa dan negara. Sehingga menjadikan nama wanita Indonesia harum, seharum nama Ibu Kartini.

 “Belajar Seumur Hidup, Belajar Dari Kehidupan”
Terus Maju Wanita Indonesia !

Selamat Hari Kartini
Untuk Wanita di IndonesiaKu

                                                                                                                                                                                





Tidak ada komentar:

Posting Komentar