PAHLAWAN TANPA DAR...DER...DOR…
ing..ting..tinggg”. Belum sempat fajar menyapa bumi, nada pesan singkat handphone berbunyi beberapa kali. “Selamat Hari Kartini, Selamat Hari Kartini, dan Selamat Hari Kartini”, kalimat itu hampir memenuhi seluruh pesan singkat yang masuk. Bukan berhenti di situ saja, kalimat itu pun telah ramai menghiasi Facebook, Twitter, dan akun sosial lainnya. Ya, itulah 21 April
Di saat mentari telah menyapa, mata tertuju
pada perempuan-perempuan yang hendak lalu-lalang.
Ada yang unik, tidak seperti biasanya. Perempuan-perempuan itu mengenakan konde, berpakaian kebaya lengkap dengan
gayanya yang anggun. ”Mau kemana mereka ?
Mau
ke kondangan ?” Hahaha
, mungkin saja. Tapi seperti biasa mereka mau menuju ke tempat peringatan hari
Kartini. Ya, itulah 21 April.
“Ada
apa sih dengan tanggal 21 April ?”.
Anak-anak Sekolah Dasar pun sudah tahu ada apa dengan tanggal itu. Tanggal 21 April merupakan hari emansipasi wanita dan telah ditetapkan pemerintah sebagai hari
besar untuk memperingati perjuangan Ibu Kartini. Pemerintah pun
telah mengabadikannya dalam sebuah lagu nasional, semua hanya untuk mengenang
betapa jasanya teramat besar untuk wanita Indonesia.
21
April, hari di mana sekitar 134
tahun yang lalu di Kota
Jepara, Jawa Tengah, lahir seorang wanita yang dapat mengangkat derajat
kaumnya. Ia dilahirkan sebagai anak keturunan bangsawan dari keturunan keluarga
yang cerdas pula. Meskipun Ia dilahirkan sebagai wanita berdarah ningrat, tapi
kepedulian sosialnya sangatlah besar
terhadap orang-orang yang lebih rendah statusnya, terutama terhadap wanita saat itu. Wanita pada saat itu berada pada status
sosial yang rendah, bahkan beliau sendiri hanya diperbolehkan sekolah sampai di
ELS (Europese Lagere School) yang setingkat dengan Sekolah Dasar.
“Cukup
Siti Nurbaya”, tapi justru nasibnya persis sama dengan Siti Nurbaya. Di usianya yang ke 12 tahun Ia
harus tunduk dibawah tradisi yang berlaku saat itu, Ia telah dijodohkan, dan
harus dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Meskipun sangat membenci
poligami tapi ia harus menjadi
pendamping Bupati
Rembang, Raden
Adipati Joyodiningrat yang sudah 3 kali
beristri. Namun, ia memiliki jiwa yang besar menerima kenyataan.
Selama
dipingit Ia tidak membuang-buang waktu untuk terus belajar. Membaca, membaca,
dan membaca Ia lakukannya setiap hari. Meskipun Ia dirumah, Ia tidak menutup dirinya. Ia menyempatkan dirinya untuk berkirim
surat dengan relasi-relasinya yang ada di Belanda. Beliau adalah orang yang
menguasai bahasa Belanda, jadi tidak sulit baginya untuk berkomunikasi dengan
relasinya yang ada di negara lain. Melalui kegiatan-kegiatan itu, Kartini
tumbuh menjadi wanita yang memiliki pemikiran yang maju. Kepedulian sosialnya
semakin peka terutama pada kaum wanita. Muncullah keinginannya untuk memajukan
kaum wanita pribumi.
Seperti
yang kita tahu, sosok Kartini yang sesungguhnya tidak langsung turun ke medan perang melawan para penjajah.
Tapi dengan cita-cita dan keinginannya yang kuat, Ia mengajar wanita-wanita
pribumi tanpa DAARR..DEERR..DOORR…
tanpa sebuah senjata pun ia berjuang untuk membebaskan wanita dari
keterbelengguan serta ketidaktahuan akan pendidikan.
Kodrat
wanita yang lemah tidak Ia jadikan sebagai penghalang, justru Ia jadikan
sebagai batu sandungan untuk terus maju memerdekakan bangsa ini dari kebodohan
dan penindasan hak kaum wanita. Ia mengajarkan wanita-wanita Indonesia untuk
menjadi pribadi yang mandiri. Perjuangannya
telah
terbukti, saat ini banyak wanita yang sukses dan menjadi pemimpin. Persamaan
hak pun telah diakui, untuk meraih kesuksesan
wanita mempunya hak yang sama dengan pria. Ini semua merupakan bukti
nyata perjuangan Ibu Kartini bahwa otak dapat mengalahkan otot.
Jalanilah segala masalah, penderitaan, kepedihan dengan
tabah
kekecewaanmu, kemarahanmu, kesulitan hidupmu
itu artinya engkau hidup
amati masalahmu lebih dekat lagi
bernafaslah lebih dalam lagi dengan bersyukur padaNya
berhentilah menangisi masa lalu karena ada sukacita dan keindahan hari ini.
bangkit dan terus belajar.
kekecewaanmu, kemarahanmu, kesulitan hidupmu
itu artinya engkau hidup
amati masalahmu lebih dekat lagi
bernafaslah lebih dalam lagi dengan bersyukur padaNya
berhentilah menangisi masa lalu karena ada sukacita dan keindahan hari ini.
bangkit dan terus belajar.
Tulisan
ini menggambarkan motivasi Kartini untuk Wanita-wanita
Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan dan terus belajar karena ada
kesenangan di masa depan.” Habis Gelap Terbit Terang”.
Jasanya
sudah teramat besar bagi wanita Indonesia dahulu, kini, dan masa yang akan datang. Kartini sudah
memberikan kebebasan kepada wanita untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin,
tidak lain untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang cerdas serta tidak
melupakan jati diri wanita Indonesia yang anggun, ramah, sopan, dan santun.
Perjuangannya
harus kita teruskan, agar muncul Kartini-Kartini baru yang mempunyai cita-cita
mulia untuk meraih kesuksesan bukan hanya untuk diri sendiri tapi untuk bangsa
dan negara. Sehingga menjadikan nama wanita Indonesia harum, seharum nama Ibu Kartini.
“Belajar
Seumur Hidup, Belajar Dari Kehidupan”
Terus
Maju Wanita Indonesia !
Selamat Hari
Kartini
Untuk Wanita di IndonesiaKu
Untuk Wanita di IndonesiaKu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar